Senin, 25 April 2016

Tes Kecerdasan / Inteligensi (Intelligence)

Tes Kecerdasan / Inteligensi (Intelligence)

Merupakan tes yang disusun dan dikembangkan untuk mengetahui kemampuan dasar individu secara umum. Tes kecerdasan tradisional, meskipun terkadang ada yang memiliki beberapa subtest, namun sebenarnya dirancang untuk mendapatkan angka global tunggal ukuran tingkat perkembangan kognitif umum individu. Keluaran angka ini kemudian sering disebut sebagai Intelligence Quotient (IQ).
Macam – macam test intelegensi :
1.      IST
IST adalah alat ukur inteligensi yang dipopulerkan oleh Rudolph Amthauer di Jerman pada tahun 1970. IST terdiri dari sembilan subtes yang dapat mengukur aspek intelegensi yang berbeda-beda dan dapat berdiri sendiri. Satzergaenzung (selanjutnya disebut SE), Wortauswahl (selanjutnya disebut WA), Analogien (selanjutnya disebut AN), Gemeinsamkeiten (selanjutnya disebut GE), Merkaufgaben (selanjutnya disebut ME), Rechenaufgaben (selanjutnya disebut RA), Zahlenreinhen (selanjutnya disebut ZR), Figurenauswahl (selanjutnya disebut FA), Wuerfelaufgaben (selanjutnya disebut WU).
Fungsi dan Tujuan:
     Menggambarkan pola kerja tertentu
     Memahami diri dan pengembangan pribadi
     Merencanakan pendidikan dan karir
     Membantu pengambilan keputusan dalam hidup individu

2.      CFIT
Culture-Fair Intelligence Test dari Cattel pertama kali dikeluarkan pada tahun 1944 dan satu-satunya percobaan yang pertama mengembangkan kecerdasan yang diukur bebas dari pengaruh budaya. Tes tersebut dianggap menjadi ukuran “g” (measure of “g”) dan mencerminkan teori Cattel yaitu Fluid Intelligence dan Crystallized Intelligence.
Terdiri dari tiga skala : Skala I untuk usia 4 sampai 8, skala II untuk usia 8 sampai 12 dan “orang dewasa rata-rata”, dan skala III untuk siswa SMA dan orang dewasa unggul. Skala I terdiri dari 8 substansi yang melibatkan labirin, menyalin simbol, mengidentifikasi gambar yang sama, dan tugas non verbal lainnya. Skala I dan II keduanya terdiri dari 4 subtes : (1) seri subtest dimana urutan gambar dilengkapi dengan memilih diantara pilihan respon, (2) klasifikasi subtes, dimana responden memilih satu gambar yang berbeda dari gambar yang lain, (3) subtes Matriks yang membutuhkan penyelesaian matriks atau pola, dan (4) ketentuan subtes, yang mengharuskan responden untuk mengidentifikasi beberapa gambar geometris memenuhi kondisi tertentu. Dua form yang tersedia, form A dan B, yang dikombinasi dan diberikan sebagai skala tunggal dalam proses standardisasi.

3.      STM
Merupakan salah satu contoh bentuk skala intelegensi yang dapat diberikan secara individual maupun kelompok.
4.      SB
Skala Stanford-Binet dikenakan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara lisan oleh pemberi tes. Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi, sangat terlatih dalam penyajian tesnya, dan mengenal betul isi berbagai tes dalam skala tersebut. Skala ini tidak cocok untuk dikenakan pada orang dewasa, karena level tersebut merupakan level intelektual dan dimaksudkan hanya sebagai batas-batas usia mental yang mungkin dicapai oleh anak-anak.
     Versi terbaru skala Stanford-Binet diterbitkan pada tahun 1986. Dalam revisi terakhir ini konsep inteligensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes. Yaitu penalaran verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak, memori jangka pendek.
Klasifikasi IQ

140 keatas    : Verry Supperrior
120 – 139     : Superior
110 – 119     : Rata-rata atas
90 – 109       : Normal atau Rata-rata
80 – 89          : Rata-rata bawah ( Low average)
70-79             : Boderline defective
69 kebawah  : Cacat mental ( mentally devective)

c. Administrasi test

1.     Prolognya meliputi: ucapan terima kasih, menjelaskan prosedur pemeriksaan, penjelasan tentang alat yang akan digunakan, prosedur ijin kebelakang, menanyakan kesiapan testee, dan etika hasil.
2.      Mengecek alat-alat yang akan digunakan
3.      Melaksanakan tes binet
4.      Melakukan scoring tes binet
5.      Membuat laporan.

5.      WAIS
WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised) mengukur 2 aspek kemampuan potensial subyek yaitu aspek verbal dan aspek performance. The WAIS merupakan the Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (WB) pada tahun 1939. Wechsler menunjukkan bahwa tes inteligensi seperti Stanford-Binet dirancang untuk mengukur intelegensi anak-anak dan untuk beberapa kasus yang mencakup orang dewasa tidak dapat sesuai. Terlebih untuk tes verbal yang standarnya kurang sesuai. Untuk mengatasi masalah ini, Wechsler  membuat alat tes yang bernama Wechsler-Bellevue, dimana item-itemnya banyak yang diadopsi dari Tes Binet-Simon, the Army Alpha, yang biasa digunakan untuk tes militer pada Perang Dunia I dan dari tes-tes lainnya. Pada tahun 1955, Wechsler-Bellevue diganti dengan the WAIS,yang direvisi kembali pada tahun 1981 dengan nama WAIS-R, dan direvisi kembali menjadi the WAIS-3 pada tahun 1997. Item-item pada skala the WAIS diambil dari variasi tes, seperti pengalaman klinis dan dari proyek-proyek pilot. Item-item tersebut dipilih dengan dasar validitas empiris walaupun seleksinya didasari oleh Wechsler’s theory of the nature intelligence. Revisi the WAIS-R merupakan usaha untuk memodernisasi konten alat tes, seperti, informasi baru item subtes yang mengacu pada orang kulit hitam yang terkenal dan kepada wanita,untuk mengurangi ambiguitas, untuk mengurangi pertanyaan-pertanyaan kontroversial, untuk memfasilitasi administrasi, dan menilai dengan tepat sesuai dengan perubahan pada Manual.
Skala Verbal : Information, Digit Span, Vocabulary, Comprehension, Arithmetic (T), Similarities.
Skala Performa : Picture Completion, Picture Arrangement (T), Block Design (T), Object Assembly (T), Digit Symbol (T).

6.      WISC
WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) mengalami revisi terakhir pada tahun 1974 bertujuan untuk mengukur inteligensi anak-anak usia 6 tahun sampai dengan 15 tahun. WISC atau WISC-R terdiri dari 12 subtes yang terbagi menjadi dua bagian yaitu Verbal dan Performance. Sub tes dalam skala verbal adalah information, comprehension, arithmetic, similarities, vocabularydan digit span. Sedangkan sub tes dalam skala performance adalah picture completion, picture arrangement, block design, object assembly, coding dan mazes. Sub tes digit span dan mazes hanya digunakan sebagai persediaan apabila diperlukan penggantian tes.

Tes Kemampuan Kerja
1.      Tes Kraeplin
Tes Kraepelin merupakan hasil dari ciptaan Emilie Kraepelin dia adalah seorang Psikiater dari Jerman, adapun proses pembuatannya dari tahum 1856-1926. Alat ini dapat tercipta atas dasar pemikiran dari faktor – faktor yang merupakan kekhasan dari sensori sederhana, sensori motor, perseptual dan tingkah laku. Tujuan dari tes Kraepelin sebenarnya adalah digunakan untuk menentukan seperti apa tipe performance seseorang, misalnya hasil penjualan yang rendah, dapat menggindikasi daya gejala depresi mental. Selain itu tes Kraepelin juga dapat digunakan untuk mengukur seberapa maximum performance dari seseorang.


2.      Tes Pauli

Tes Pauli dikembangkan pada tahun 1983, oleh Dr.Richard Pauli bersama dengan Dr. Wilhem Arnold dan Prof. Dr. Van Hiss. Pada dasarnya, Richard Pauli tergolong dalam suatu aliran yang ingin membuat psikologi menjadi bidang ilmu pasti, yaitu membuat psikologi sebagai suatu bidang eksperimen. Di dalam penyusunan atau pembuatan test pauli ini, Richard Pauli mengambil cara yang dipergunakan oleh Kraeplin, yaitu menggunakan suatu metode dengan cara mengerjakan penghitungan sederhana di mana yang hendak dilihat adalah kurva kerja dari testee. Kraeplin adalah seorang psikiater atau dokter jiwa yang menggunakan metode dengan menyuruh testee menghitung.

Adapun ciri dari test Pauli antara lain adalah: penjumlahan yang mengalir, angka yang ditulis hanya satuan, hasil penjumlahan tidak dijumlahkan dengan angka berikutnya. Tujuan pengukuran tes Pauli adalah mengetahui batas perbedaan kondisi individu, melihat prestasi dengan tepat, dan mengetahui pengaruh sikap kerja terhadap prestasi.

Tes Evaluasi Belajar
Teknik tes:
Individu yang dievaluasi (testee) akan mengalami perlakuan yang sama, dalam hal perintah, bentuk tugas, dan waktu yang diperlukan untuk mengerjakan evaluasi tugas. Sehingga, individu yang dites tersebut akan memiliki skor tertentu yang dapat dijadikan sebagai gambaran atas apa yang telah dievaluasi.
Instrumen Tes :
Teknik tes dibagi menjadi 3 jenis, yaitu tulisan, lisan, dan tindakan.
1. Tes tulisan adalah tes yang disajikan secara tertulis, baik pertanyaan yang diajukan maupun cara menjawabnya. Jadi, ada dua perangkat penting dalam teknik tes tulisan, yaitu lembar soal dan lembar jawab.
2. Tes lisan adalah tes yang dilakukan dengan cara komunikasi langsung dengan orang yang melakukan tes dan orang yang dites.
3. Tes tindakan adalah bentuk tes yang disajikan dalam bentuk tugas tindakan. Dalam teknik ini peserta tes menyelesaikan tugas sementara tester memberikan instruksi berupa tugas serta melakukan pengamatan.
Teknik non tes:
Teknik non tes ini bisa digunakan untuk menilai psikomotorik dan afektif dari peserta didik, bukan aspek kognitifnya. Berbagai macam teknik non-tes. Pengamatan atau observasi, skala penilaian dan sikap, interview, studi kasus, angket atau kuesioner portofolio, dokumentasi, riwayat hidup.
Instrumen Non Tes :
Wawancara: Ada dua jenis wawancara yang biasa dilakukan, yaitu wawancara berstruktur dan wawancara tidak berrstruktur Pada wawancara berstruktur  kemungkinan jawaban telah disiapkan sehingga peserta didik hanya tinggal mengategorikan jawabannya, diolah dan kemudian dianalisis untuk disusun kesimpulan. Sementara itu, pada wawancara bebas, jawaban tidak perlu disiapkan.
Kuesioner (angket): merupakan salah satu bentuk evaluasi yang berupa pertanyaan-pertanyaan dalam kertas dan responden diminta untuk mengisi jawaban kolom-kolom yang telah tersedia.
Observasi: Hal yang diingat adalah observasi harus dilaksanakan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. Sebelumnya, pengamat harus menetapkan aspek-aspek perilaku seperti apa yang akan diobservasi. Kemudian, aspek-aspek tersebut dirancang sebagai pedoman dalam melakukan observasi
Skala sikap dan penilaian: Skala sikap dipakai untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui   pernyataan perilaku individu pada suatu kategori yang bermakna nilai

Sosiometri: Instrumen sosiometri merupakan teknik evaluasi yang tepat untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan diri, terutama hubungan sosialnya dengan teman sekelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar