Tes Kecerdasan / Inteligensi
(Intelligence)
Merupakan tes yang disusun dan dikembangkan untuk mengetahui kemampuan dasar individu secara umum. Tes kecerdasan tradisional, meskipun terkadang ada yang memiliki beberapa subtest, namun sebenarnya dirancang untuk mendapatkan angka global tunggal ukuran tingkat perkembangan kognitif umum individu. Keluaran angka ini kemudian sering disebut sebagai Intelligence Quotient (IQ).
Macam –
macam test intelegensi :
1. IST
IST adalah alat ukur inteligensi yang dipopulerkan oleh
Rudolph Amthauer di Jerman pada tahun 1970. IST terdiri dari sembilan
subtes yang dapat mengukur aspek intelegensi yang berbeda-beda dan dapat
berdiri sendiri. Satzergaenzung (selanjutnya disebut SE), Wortauswahl
(selanjutnya disebut WA), Analogien (selanjutnya disebut AN), Gemeinsamkeiten
(selanjutnya disebut GE), Merkaufgaben (selanjutnya disebut ME), Rechenaufgaben
(selanjutnya disebut RA), Zahlenreinhen (selanjutnya disebut ZR),
Figurenauswahl (selanjutnya disebut FA), Wuerfelaufgaben (selanjutnya disebut
WU).
Fungsi
dan Tujuan:
• Menggambarkan
pola kerja tertentu
• Memahami
diri dan pengembangan pribadi
• Merencanakan
pendidikan dan karir
• Membantu
pengambilan keputusan dalam hidup individu
2.
CFIT
Culture-Fair
Intelligence Test dari Cattel pertama kali dikeluarkan pada tahun 1944 dan
satu-satunya percobaan yang pertama mengembangkan kecerdasan yang diukur bebas
dari pengaruh budaya. Tes tersebut dianggap menjadi ukuran “g” (measure of “g”)
dan mencerminkan teori Cattel yaitu Fluid Intelligence dan Crystallized
Intelligence.
Terdiri
dari tiga skala : Skala I untuk usia 4 sampai 8, skala II untuk usia 8 sampai
12 dan “orang dewasa rata-rata”, dan skala III untuk siswa SMA dan orang dewasa
unggul. Skala I terdiri dari 8 substansi yang melibatkan labirin, menyalin
simbol, mengidentifikasi gambar yang sama, dan tugas non verbal lainnya. Skala
I dan II keduanya terdiri dari 4 subtes : (1) seri subtest dimana urutan gambar
dilengkapi dengan memilih diantara pilihan respon, (2) klasifikasi subtes,
dimana responden memilih satu gambar yang berbeda dari gambar yang lain, (3)
subtes Matriks yang membutuhkan penyelesaian matriks atau pola, dan (4)
ketentuan subtes, yang mengharuskan responden untuk mengidentifikasi beberapa
gambar geometris memenuhi kondisi tertentu. Dua form yang tersedia, form A dan
B, yang dikombinasi dan diberikan sebagai skala tunggal dalam proses
standardisasi.
3. STM
Merupakan
salah satu contoh bentuk skala intelegensi yang dapat diberikan secara
individual maupun kelompok.
4. SB
Skala
Stanford-Binet dikenakan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara
lisan oleh pemberi tes. Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang
mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi, sangat
terlatih dalam penyajian tesnya, dan mengenal betul isi berbagai tes dalam
skala tersebut. Skala ini tidak cocok untuk dikenakan pada orang dewasa, karena
level tersebut merupakan level intelektual dan dimaksudkan hanya sebagai
batas-batas usia mental yang mungkin dicapai oleh anak-anak.
Versi
terbaru skala Stanford-Binet diterbitkan pada tahun 1986. Dalam revisi terakhir
ini konsep inteligensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang
masing-masing diwakili oleh beberapa tes. Yaitu penalaran verbal, penalaran
kuantitatif, penalaran visual abstrak, memori jangka pendek.
Klasifikasi
IQ
140
keatas : Verry Supperrior
120
– 139 : Superior
110
– 119 : Rata-rata atas
90
– 109 : Normal atau Rata-rata
80
– 89 : Rata-rata bawah (
Low average)
70-79 : Boderline defective
69
kebawah : Cacat mental ( mentally devective)
c.
Administrasi test
1.
Prolognya meliputi: ucapan terima kasih, menjelaskan prosedur pemeriksaan,
penjelasan tentang alat yang akan digunakan, prosedur ijin kebelakang, menanyakan
kesiapan testee, dan etika hasil.
2. Mengecek
alat-alat yang akan digunakan
3. Melaksanakan
tes binet
4. Melakukan
scoring tes binet
5. Membuat
laporan.
5.
WAIS
WAIS
(Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised) mengukur 2 aspek kemampuan
potensial subyek yaitu aspek verbal dan aspek performance. The WAIS merupakan
the Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (WB) pada tahun 1939. Wechsler
menunjukkan bahwa tes inteligensi seperti Stanford-Binet dirancang untuk
mengukur intelegensi anak-anak dan untuk beberapa kasus yang mencakup orang
dewasa tidak dapat sesuai. Terlebih untuk tes verbal yang standarnya kurang
sesuai. Untuk mengatasi masalah ini, Wechsler membuat alat tes yang
bernama Wechsler-Bellevue, dimana item-itemnya banyak yang diadopsi dari Tes
Binet-Simon, the Army Alpha, yang biasa digunakan untuk tes militer pada Perang
Dunia I dan dari tes-tes lainnya. Pada tahun 1955, Wechsler-Bellevue diganti
dengan the WAIS,yang direvisi kembali pada tahun 1981 dengan nama WAIS-R, dan
direvisi kembali menjadi the WAIS-3 pada tahun 1997. Item-item pada skala the
WAIS diambil dari variasi tes, seperti pengalaman klinis dan dari proyek-proyek
pilot. Item-item tersebut dipilih dengan dasar validitas empiris walaupun
seleksinya didasari oleh Wechsler’s theory of the nature intelligence.
Revisi the WAIS-R merupakan usaha untuk memodernisasi konten alat tes, seperti,
informasi baru item subtes yang mengacu pada orang kulit hitam yang terkenal
dan kepada wanita,untuk mengurangi ambiguitas, untuk mengurangi
pertanyaan-pertanyaan kontroversial, untuk memfasilitasi administrasi, dan
menilai dengan tepat sesuai dengan perubahan pada Manual.
Skala
Verbal : Information, Digit Span, Vocabulary, Comprehension, Arithmetic (T),
Similarities.
Skala
Performa : Picture Completion, Picture Arrangement (T), Block Design (T),
Object Assembly (T), Digit Symbol (T).
6.
WISC
WISC (Wechsler Intelligence Scale for
Children) mengalami revisi
terakhir pada tahun 1974 bertujuan untuk mengukur inteligensi anak-anak usia 6
tahun sampai dengan 15 tahun. WISC atau WISC-R terdiri dari 12 subtes yang
terbagi menjadi dua bagian yaitu Verbal dan Performance. Sub tes dalam skala
verbal adalah information, comprehension, arithmetic, similarities, vocabularydan digit span.
Sedangkan sub tes dalam skala performance adalah picture completion, picture
arrangement, block design, object assembly, coding dan mazes. Sub tes
digit span dan mazes hanya digunakan sebagai persediaan apabila diperlukan penggantian
tes.
Tes Kemampuan Kerja
1. Tes Kraeplin
Tes Kraepelin merupakan hasil dari ciptaan Emilie Kraepelin dia
adalah seorang Psikiater dari Jerman, adapun proses pembuatannya dari tahum
1856-1926. Alat ini dapat tercipta atas dasar pemikiran dari faktor – faktor
yang merupakan kekhasan dari sensori sederhana, sensori motor, perseptual dan
tingkah laku. Tujuan dari tes Kraepelin sebenarnya adalah digunakan untuk
menentukan seperti apa tipe performance seseorang, misalnya hasil penjualan
yang rendah, dapat menggindikasi daya gejala depresi mental. Selain itu tes
Kraepelin juga dapat digunakan untuk mengukur seberapa maximum performance dari
seseorang.
2. Tes Pauli
Tes Pauli dikembangkan pada
tahun 1983, oleh Dr.Richard Pauli bersama dengan Dr. Wilhem Arnold dan Prof.
Dr. Van Hiss. Pada dasarnya, Richard Pauli tergolong dalam suatu aliran yang
ingin membuat psikologi menjadi bidang ilmu pasti, yaitu membuat psikologi
sebagai suatu bidang eksperimen. Di dalam penyusunan atau pembuatan test pauli
ini, Richard Pauli mengambil cara yang dipergunakan oleh Kraeplin, yaitu
menggunakan suatu metode dengan cara mengerjakan penghitungan sederhana di mana
yang hendak dilihat adalah kurva kerja dari testee. Kraeplin adalah seorang
psikiater atau dokter jiwa yang menggunakan metode dengan menyuruh testee
menghitung.
Adapun ciri dari test Pauli
antara lain adalah: penjumlahan yang mengalir, angka yang ditulis hanya satuan,
hasil penjumlahan tidak dijumlahkan dengan angka berikutnya. Tujuan pengukuran
tes Pauli adalah mengetahui batas perbedaan kondisi individu, melihat prestasi
dengan tepat, dan mengetahui pengaruh sikap kerja terhadap prestasi.
Tes Evaluasi Belajar
Teknik tes:
Individu yang dievaluasi
(testee) akan mengalami perlakuan yang sama, dalam hal perintah, bentuk tugas,
dan waktu yang diperlukan untuk mengerjakan evaluasi tugas. Sehingga, individu
yang dites tersebut akan memiliki skor tertentu yang dapat dijadikan sebagai
gambaran atas apa yang telah dievaluasi.
Instrumen Tes :
Teknik tes dibagi menjadi 3
jenis, yaitu tulisan, lisan, dan tindakan.
1. Tes tulisan adalah tes yang
disajikan secara tertulis, baik pertanyaan yang diajukan maupun cara
menjawabnya. Jadi, ada dua perangkat penting dalam teknik tes tulisan, yaitu
lembar soal dan lembar jawab.
2. Tes lisan adalah tes yang
dilakukan dengan cara komunikasi langsung dengan orang yang melakukan tes dan
orang yang dites.
3. Tes tindakan adalah bentuk
tes yang disajikan dalam bentuk tugas tindakan. Dalam teknik ini peserta tes
menyelesaikan tugas sementara tester memberikan instruksi berupa tugas serta
melakukan pengamatan.
Teknik non tes:
Teknik non tes ini bisa
digunakan untuk menilai psikomotorik dan afektif dari peserta didik, bukan
aspek kognitifnya. Berbagai macam teknik non-tes. Pengamatan atau observasi,
skala penilaian dan sikap, interview, studi kasus, angket atau kuesioner
portofolio, dokumentasi, riwayat hidup.
Instrumen Non Tes :
Wawancara: Ada dua jenis wawancara yang biasa dilakukan, yaitu wawancara
berstruktur dan wawancara tidak berrstruktur Pada wawancara berstruktur kemungkinan jawaban telah disiapkan sehingga
peserta didik hanya tinggal mengategorikan jawabannya, diolah dan kemudian
dianalisis untuk disusun kesimpulan. Sementara itu, pada wawancara bebas,
jawaban tidak perlu disiapkan.
Kuesioner (angket): merupakan salah satu bentuk evaluasi yang berupa
pertanyaan-pertanyaan dalam kertas dan responden diminta untuk mengisi jawaban
kolom-kolom yang telah tersedia.
Observasi: Hal yang diingat adalah observasi harus dilaksanakan pada saat
proses kegiatan itu berlangsung. Sebelumnya, pengamat harus menetapkan
aspek-aspek perilaku seperti apa yang akan diobservasi. Kemudian, aspek-aspek
tersebut dirancang sebagai pedoman dalam melakukan observasi
Skala sikap dan penilaian: Skala sikap dipakai untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek
tertentu. Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh
seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu
kategori yang bermakna nilai
Sosiometri: Instrumen sosiometri merupakan teknik evaluasi yang tepat untuk
mengetahui kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan diri, terutama hubungan
sosialnya dengan teman sekelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar